-->
  • Jelajahi

    Copyright © Wargata.com
    Info Berada di Sekitar Warga

    Hukrim

    Ads Google Searc

    Banner IDwebhost

    Obrolan Ekonomi Kreatif GeKrafs NTB : Kupas Tuntas Ekonomi Kreatif Sektor Peternakan

    Syukron redaksi wargata.com
    28/12/21, 11:05 WIB Last Updated 2021-12-28T04:05:32Z
    Wargata.com Mataram NTB- Industrialisasi pada bidang peternakan di Provinsi NTB ke depan bukan saja berbicara pada sektor hulu tetapi akan banyak berbicara pada sektor hilir. Karena banyak produk-produk industri kreatif dari sektor peternakan jika dikelola dengan baik. 

    "Sebenarnya dari satu ekor sapi saja banyak yang dapat dimanfaatkan, selain daging, kulit, tulang, jeroan dan darahnya pun dapat dikembangkan," ujar Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTB, Drh Khairul Akbar M.Si saat menghadiri Podcast Obrolan Ekonomi Kreatif bersama Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GeKrafs) NTB di Mataram, Senin (27/12). 

    Dalam podcast yang bertema ekonomi kreatif pada sektor peternakan itu dikupas tuntas oleh host Detha Marenthy. Hadir juga hadir salah satu owner Lamtoro Beef Naufal Armanditya.

    Khairul Akbar menjelaskan, limbah dari sapi selain dagingnya sangat mungkin dimanfaatkan untuk mengahasilkan produk-produk yang bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. 

    Contohnya saja kulitnya bisa menjadi bahan pembuatan tas, sepatu atau pun bahan makanan seperti kerupuk kulit khas NTB. Kemudian susu sapi juga sangat baik dimanfaatkan untuk minuman kesehatan. 

    Begitu juga tulang dan darah yang dapat dimanfaatkan untuk dibuat tepung yang digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak unggas. 

    "Selain daging segar dan daging olahan yang bisa dimanfaatkan. Tulang, darah, susu dan kulit pun bisa dimanfaatkan menjadi produk kreatif, namun sejauh ini di NTB masih belum dikelola dengan baik," kata Khairul. 

    Tahun ini juga, yang sedang mulai dikembangkan oleh Dinas Peternakan Provinsi NTB adalah distribusi unggas kepada 130 kelompok peternak. Satu kelompok akan didistribusikan 500 hingga 700 unggas, dan program ini pasti membutuhkan tambahan pakan yang konsisten. 

    "Nah, inilah industrialisasi atau produk kreatif, potensi lokal tadi seperti darah dan tulang bisa diolah menjadi tepung pakan dan bisa dijual ke para peternak unggas," katanya. 

    Walaupun sampai saat ini belum begitu dikelola dengan baik, tetapi ke depan jika pola industrialisasi seperti ini dijalankan maka tidak akan ada yang terbuang dan produk kreatif kita di sektor peternakan ini akan terus berkembang. 

    Apalagi dengan hadirnya investor seperti artis Rafi Ahmad yang berencana membuka bisnisnya di Lombok yang dapat mengembangkan sektor peternakan. Sehingga semua potensi produk peternakan dapat dikelola dengan baik.

    Sapi adalah icon NTB, jika dulu pemerintah mempunyai program sejuta sapi, maka pencapaian saat ini adalah lebih dari sejuta sapi. 

    NTB saat ini mempunyai populasi sekitar 1.282.000 ekor sapi. Artinya sudah lebih dari satu juta dan ini sudah luarbiasa. Apalagi NTB beberapa waktu lalu mendapat penghargaan masuk lima besar sebagai Provinsi yang paling banyak memiliki populasi anak sapi. 

    "Perkembangan sapi di NTB ini rata-rata mencapai 4 sampai 6 persen setiap tahun, ini sangat luarbiasa," kata Khairul. 

     *NTB Punya Program 1.000 Desa Sapi.* 

    Dinas Peternakan Provinsi NTB juga memiliki program 1.000 desa sapi. Program ini ada di empat provinsi di Indonesia, salah satunya di NTB. 

    Dari program ini kita mendapat bantuan ratusan sapi yang didistribusikan ke beberapa kelompok. Seperti kelompok di Kecamatan Pujut. 

    "Dari bantuan ini kita pilih 200 ekor sapi betina dan 500 ekor sapi jantan. Sekitar 100 ekor betina dan jantan kita sebar di lima desa di Kecamatan Pujut" katanya. 

    Program ini terus kita kontrol, sehingga sapi ini terus berkembang. Kelompok yang diberi bantuan tidak akan mengembalikan sapi-sapi tersebut melainkan mereka akan membantu peternak lain lagi yang membutuhkan untuk dilakukan pengembangan biak kembali. 

    Selain 1.000 desa sapi. Dinas Peternakan Provinsi NTB juga lagi mengembangkan pakan lamtoro yang nantinya menjadikan kualitas daging sapi lokal dapat bersaing dengan daging sapi import.

    (TW)
    Komentar

    Tampilkan

    Timwar

    +