Wargata.com, SULSEL - Potensi kelapa di Kabupaten Maros yang mencapai sekitar 251,7 ton per tahun menjadi salah satu peluang yang mendorong mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) PAREDE BUGIS untuk mengembangkan pengolahan kelapa berbasis potensi lokal di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros.
Program tersebut hadir dari kondisi di lapangan, khususnya masih ditemukannya kelapa tua yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian kelapa bahkan dibiarkan hingga bertunas, membusuk, dan bercampur dengan sampah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan semata-mata keterbatasan bahan baku, melainkan belum optimalnya kapasitas masyarakat dalam mengubah potensi kelapa menjadi produk bernilai tambah.
Melalui PAREDE BUGIS, tim mahasiswa PNUP menggandeng Karang Taruna Desa Nisombalia sebagai mitra utama.
Pemilihan Karang Taruna dilakukan karena kelompok pemuda tersebut dinilai memiliki potensi sebagai penggerak dan kader lokal yang dapat meneruskan keterampilan pengolahan, pengoperasian teknologi tepat guna, pengelolaan produk, hingga pemasaran digital setelah program berakhir.
Ketua Tim PAREDE BUGIS, Miftah Farid menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada menghasilkan produk, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat berdasarkan aset yang telah dimiliki desa.
“Kami tidak ingin melihat kelapa hanya sebagai bahan mentah yang dijual atau bahkan dibiarkan menjadi limbah. Kami ingin menunjukkan bahwa dari satu potensi lokal, masyarakat dapat menghasilkan beberapa produk bernilai tambah sekaligus. Prinsipnya sederhana, yang sebelumnya dianggap sisa kita ubah menjadi nilai,” ujar Miftah.
Dari kegiatan produksi, tim bersama mitra mengembangkan empat produk olahan kelapa yaitu Minyak Parede, Virgin Coconut Oil (VCO), Kerak Minyak dan Bajabu (Abon Kelapa).
Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya menerapkan prinsip pemanfaatan kelapa secara terpadu sehingga hasil samping yang masih memiliki nilai guna tidak langsung menjadi limbah.
Dalam aspek keberlanjutan, tim tidak berhenti pada pelatihan produksi. kaderisasi Masyarakat juga dilakukan untuk memperluas pengetahuan dan memastikan keterampilan yang telah diberikan dapat diteruskan di tingkat desa. Karang Taruna diarahkan menjadi salah satu penggerak keberlanjutan kegiatan, sementara keterlibatan masyarakat diperluas agar pemanfaatan potensi kelapa tidak hanya berhenti pada kelompok mitra.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim PAREDE BUGIS juga akan melaksanakan kegiatan diseminasi hasil dan pengetahuan kepada masyarakat Desa Nisombalia bersama mitra Karang Taruna.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyebarluaskan pengetahuan yang telah diperoleh selama program, khususnya terkait pemanfaatan kelapa, pengolahan produk, pemanfaatan hasil samping, serta pengelolaan dan pengembangan produk bernilai ekonomi.
Kegiatan diseminasi tersebut akan dilaksanakan pada pada tanggal 1 Aguatus 2026 sekitar pukul 09.00 WITA sampai Selesai yang bertempat di Kantor Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros.
Melalui kegiatan tersebut, PAREDE BUGIS diharapkan tidak hanya memberikan dampak kepada kelompok mitra, tetapi juga dapat memperluas manfaat program kepada masyarakat desa. Mitra Karang Taruna bersama tim mahasiswa akan menjadi bagian dalam proses penyebarluasan pengetahuan sehingga keterampilan yang telah diperoleh dapat terus berkembang dan diterapkan secara lebih luas.
Melalui PAREDE BUGIS, mahasiswa PNUP berupaya mempertemukan potensi lokal, teknologi tepat guna, pengetahuan masyarakat dan semangat pemuda dalam satu ekosistem pemberdayaan. Harapannya, kelapa yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan keterampilan dan peluang ekonomi masyarakat Desa Nisombalia.
“Bagi kami, keberhasilan program bukan hanya ketika empat produk berhasil dibuat. Yang lebih penting adalah ketika setelah mahasiswa kembali ke kampus, masyarakat tetap memiliki pengetahuan, alat, kader, dan sistem untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai bersama,” tutup Miftah. (Red).


