Wargata.com, Sulteng - Rabu, (14/1/2025). Di tengah riuhnya perdebatan keagamaan yang kerap memicu perpecahan di ruang publik, Rais Syuriyah PBNU sekaligus tokoh moderasi Nasional, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, memberikan sebuah catatan tentang fenomena ini.
Ia menegaskan bahwa substansi agama tidak pernah menjadi akar pertikaian, sebaliknya, pertengkaran justru lahir dari ketidakmampuan seseorang menguasai ilmu secara utuh.
Menurut Prof. Zainal, fenomena saling hujat karena perbedaan pandangan keagamaan bukanlah refleksi dari kedalaman iman, melainkan reaksi dari ego yang mengingkan pendapatnya diikuti semua orang.
"Orang yang bertengkar dalam hal agama sebenarnya bukan karena ilmu agama atau ilmuwan agama, tetapi orang yang tidak menguasai ilmu agama dan mengumbar pendapat seenaknya sendiri," tulis Prof. Zainal di dalam quotesnya.
Dalam ulasannya, Guru Besar UIN Datokarama Palu ini mengajak publik menengok kembali lembaran sejarah emas intelektual Islam.
Prof Zainal mencontohkan perbedaan pandangan antara dua imam besar, Imam Malik dan muridnya, Imam Syafi'i, terkait konsep rezeki.
Dikisahkan, Imam Malik berpegang pada prinsip bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya melalui ketakwaan dan tawakal yang murni.
Di sisi lain, Imam Syafi’i memiliki perspektif berbeda. Imam Syafi'i meyakini bahwa rezeki harus dikejar melalui ikhtiar atau kerja nyata.
Meski keduanya berada pada kutub pemikiran yang berseberangan dalam hal ini, tidak pernah ada catatan sejarah yang menyebutkan mereka saling menjatuhkan atau bertengkar.
"Mereka menguasai ilmu secara mendalam, sehingga memahami bahwa perbedaan pemahaman adalah rahmat, bukan alasan untuk bertengkar apalagi sampai memutus silaturahmi," ulas Prof. Zainal.
Prof. Zainal juga membedah alasan mengapa saat ini banyak orang justru mudah tersulut emosi dalam perkara agama.
Ia menilai, mereka yang gemar bertengkar cenderung hanya ingin pendapatnya diikuti dan diakui sebagai kebenaran tunggal.
Kondisi ini terjadi karena minimnya penguasaan ilmu. Seseorang yang dangkal ilmunya akan merasa "terancam" oleh perbedaan, sehingga ia cenderung mengumbar pendapat secara subjektif sesuai egonya masing-masing.
"Agama tidak mengajarkan pertengkaran. Jika ada yang bertengkar, maka yang dikedepankan adalah egonya, bukan ilmunya. Sebab, ilmuwan agama yang sesungguhnya akan selalu membawa keteduhan, bukan kegaduhan," Imbuhnya.
Narasi yang dibangun Prof. Zainal ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat di era informasi saat ini. Ketua FKUB Provinsi Sulteng itu menekankan bahwa semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin lapang pula dadanya dalam menerima keberagaman sudut pandang.
(MW/RL)




