![]() |
| Penulis: Haerul Tungga (Wakil Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Provinsi Sulawesi Selatan) |
Wargata.com, Luwu Utara -- Kabupaten Luwu Utara saat ini menunjukkan perkembangan ekonomi yang cukup menjanjikan. Dalam beberapa tahun terakhir, daerah ini mulai memperlihatkan pertumbuhan yang stabil, terutama ditopang oleh sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan. Bahkan, data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Luwu Utara mencapai 6,17 persen pada 2025 dan masuk dalam jajaran daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di Sulawesi Selatan.
Capaian tersebut tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat. Ini menunjukkan bahwa roda ekonomi daerah bergerak lebih aktif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apalagi, angka kemiskinan juga dilaporkan mengalami penurunan cukup signifikan. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah pertumbuhan itu sudah benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat?
Secara umum, ekonomi Luwu Utara masih sangat bergantung pada sektor primer seperti pertanian dan perkebunan. Ketergantungan ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, sektor tersebut menjadi kekuatan utama daerah karena sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari hasil kebun, sawah, maupun perikanan. Tetapi di sisi lain, ketergantungan yang terlalu besar membuat ekonomi daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas, cuaca ekstrem, dan bencana alam.
Kondisi ini terlihat ketika harga kakao, sawit, atau hasil pertanian turun, maka daya beli masyarakat ikut melemah. Aktivitas pasar menjadi lesu, dan pelaku UMKM ikut terdampak. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menjamin kestabilan ekonomi masyarakat bawah jika tidak diiringi dengan diversifikasi usaha dan penguatan sektor industri pengolahan.
Selain itu, tantangan lain yang masih dihadapi adalah infrastruktur dan lapangan kerja. Sebagian wilayah di Luwu Utara masih membutuhkan akses jalan, irigasi, serta fasilitas pendukung ekonomi yang lebih memadai. Infrastruktur menjadi faktor penting untuk mempercepat distribusi hasil pertanian dan membuka akses investasi baru.
Masalah pengangguran juga menjadi perhatian. Pertumbuhan ekonomi seharusnya mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja produktif, terutama bagi generasi muda. Jika tidak, maka pertumbuhan hanya akan terlihat dalam angka statistik tanpa memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah daerah patut diapresiasi karena berhasil menjaga tren pertumbuhan ekonomi tetap positif di tengah tantangan ekonomi nasional dan global. Nilai PDRB Luwu Utara juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan adanya pergerakan ekonomi yang cukup sehat.
Ke depan, Luwu Utara membutuhkan strategi pembangunan ekonomi yang lebih berorientasi pada nilai tambah. Hilirisasi hasil pertanian, penguatan UMKM, pengembangan industri lokal, hingga digitalisasi ekonomi harus menjadi prioritas. Daerah ini memiliki potensi besar, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.
Jika potensi tersebut dikelola secara serius dan berkelanjutan, maka Luwu Utara bukan hanya mampu tumbuh secara ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakatnya. (Hr/@)





